Saturday, February 2, 2013

Penyebab Rupiah Melemah Walau Ekonomi Membaik

http://www.opoae.com/2013/02/penyebab-rupiah-melemah-walau-ekonomi.html
Opoae ~ Nilai tukar rupiah akhir-akhir ini cenderung melemah. Pelemahan ini dinilai tidak sesuai dengan kondisi fundamental Indonesia yang positif.

Ekonom pasar uang Farial Anwar menjelaskan, kondisi nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal 2012 lalu. Dalam setahun, rupiah terus melemah dari Rp 9.000 menjadi Rp 9.650 per dollar AS. Pada perdagangan kemarin, rupiah bertengger di level Rp 9.680 per dollar AS. Tertinggi, nilai tukar rupiah pernah menembus level Rp 9.775 per dollar AS pada 15 Januari 2013.

"Saya sangat prihatin dengan kondisi nilai tukar rupiah saat ini. Sebenarnya ini terjadi anomali di saat perekonomian Indonesia positif, tetapi rupiah malah terus melemah," kata Farial.

Menurut Farial, penyebab pelemahan rupiah saat ini adalah pertama, permintaan dollar AS yang sangat tinggi di pasar. Namun, permintaan tersebut ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan di pasar.

Otomatis, masyarakat ramai-ramai memburu dollar AS, meski dalam kondisi susah mendapatkannya. Di sisi lain, masyarakat yang sudah memiliki dollar AS cenderung menahan asetnya tersebut dan tidak mau melepas ke pasar. "Jadi, lebih kepada supply yang tidak bisa mengimbangi demand pasar," katanya.

Kedua, Farial menduga adanya isu redenominasi yang cenderung membuat pasar panik. Masyarakat beranggapan bahwa redenominasi ini sama seperti dengan sanering (memotong nilai mata uangnya). Padahal, kondisi tersebut sebenarnya malah sebaliknya. Redenominasi ini hanya penyederhanaan nilai mata uang yang kini masih terlalu besar.

"Namun, pasar sudah panik duluan dan mereka lebih cepat mengamankan aset dollar AS," tambahnya.

Ketiga, neraca perdagangan yang terus defisit. Hal ini dipengaruhi oleh impor migas yang terus membesar. Apalagi harga minyak mentah dunia kali ini semakin melonjak.

Di sisi lain, asumsi makro pemerintah 2013 hanya menganggarkan nilai tukar rupiah sekitar Rp 9.300 per dollar AS. Padahal, nilai tukar rupiah sekarang ini sudah lebih dari itu. "Jika tidak segera ada tindakan, maka defisit anggaran akan semakin membengkak. Imbasnya malah semakin fatal ke perekonomian," jelasnya.

Baca Juga: