Latest Movie :
Recent POST
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Kisah Anak Sopir Angkot yang Sukses di New York

Opoae ~ Seorang pria memasuki dunia lain. Sedikit pun tak pernah tersirat ia akan berada di tempat ini. Bandara John F Kennedy. Ya, ini New York

Ia melanjutkan perjalanannya dengan mobil. Melewati Manhattan, nafasnya tertahan sejenak: gedung-gedung menjulang, dan puncak Chrysler Building berkilau seperti berlian. Lalu Empire State Building pamer kemegahan. Juga Sungai Hudson, seperti menenggelamkan jiwanya. 

Bronx, ia juga melewatinya. Sedikit menyurut dari kemewahan Manhattan, di sini lebih banyak kedai cepat saji, pemusik jalanan, dan lalu lalang orang di subway station. 

Lepas dari Bronx ia menapakkan kaki di Westchester. Kebetulan saat itu sedang musim gugur. Daun hijau menjelma keemasan, merah muda, merah tua, merah keemasan. Makin romantis dengan terpaan sinar matahari. 

"Ini sambutan untuk saya, saya tidak sedang bermimpi," gumam Iwan Setyawan. Demikian nama lelaki ini.

Gagap Bahasa Inggris
Dari Batu, Malang, Iwan datang ke New York untuk mewujudkan mimpi. Mimpi yang sangat sederhana: memiliki kamar tidur sendiri di rumahnya. 

Cita-citanya masa kecil sederhana sekali, dia ingin menjadi Hansip. Dulu itu pekerjaan yang mengagumkan untuknya. "Di lingkungan saya kecil dulu, nggak ada orang yang bekerja pakai seragam. Ya cuma Hansip itu yang pakai baju serba hijau, belt, sepatu. Itu canggih," ujarnya. 

Ke New York, Iwan juga ingin membalas perjuangan keras orang tuanya, menyekolahkan hingga perguruan tinggi. Iwan memang tak besar di lingkungan cukup. Ayahnya sopir angkot, dan ibunya hanya di rumah, mendidik, dan membentuk hati anak-anaknya.

Keinginan membahagiakan keluarga begitu kuat, sampai akhirnya ia berangkat mengisi posisidata processing di Nielsen Research New York yang merupakan perusahaan riset terkemuka asal Amerika. Sebenarnya, dari hati kecil ia tak ingin meninggalkan orang-orang dekatnya di tanah air. Bapak, ibu, kakak, dan adik. 

Dari kecil lelaki kelahiran 2 Desember 1974 ini tak pernah jauh dari keluarga. Ia memang pernah pekerja di Jakarta, di perusahaan sama. Ia juga merasakan kuliah di Bogor, tempatnya menimba ilmu statistik.

Tapi New York sangat jauh. Ia tak bisa pulang sewaktu-waktu saat rindu menyerang. Ini sangat menyedihkan untuknya. Tiga bulan pertama di New York, Iwan tinggal bersama rekan yang sudah dianggap sebagai kakaknya, Mbak Ati. Ke mana pun ingin pergi pria bertubuh kecil ini selalu ditemani. Kesedihan makin parah saat Mbak Ati, teman satu-satunya ini memutuskan pindah ke Australia. Meninggalkan dia seorang diri di negara asing.
Iwan harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia mulai belajar memasak, mengurus segala tagihan rekening listrik dan telepon sendirian. Dan terpaksa harus mencari teman baru. Masa penyesuaian ini sangat sulit. Sesulit penyesuaian dirinya pada pekerjaan, mengingat bahasa Inggris-nya juga tidak canggih.

"What? What did you say? Would you repeat again?" ceritanya setiap kali ia mencoba berbahasa Inggris. Saat bekerja, ia lebih banyak diam. Bukan karena tak mau bergaul, tapi karena ia tidak tahu bagaimana harus bicara. 

Namun lelaki yang dipanggil Bayek semasa kecil ini tak mau jalan di tempat. Ia sudah kadung nyemplung ke dunia profesional, dunia yang sangat langka karena tidak semua orang beruntung seperti dirinya. Ia lalu memberanikan diri menunjukkan bahasa Inggris-nya di lingkungan kerja. 

"Saya jadi banyak membaca, menonton TV. Pertama kali ngomong, orang sering banyaknggak ngerti. Ini orang aksennya lucu," ujarnya. 

Berkarya di luar negeri bukan hanya soal kepiawaian berbahasa, tapi juga kemampuan. Ia sempat minder saat kinerjanya dipertanyakan, mengingat ia hanya lulusan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bukan dari sekolah popular di Amerika seperti kebanyakan rekannya. 

Iwan membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing. Ia bekerja lebih keras dibanding yang lain. Bekerja lebih lama dibandingkan yang lain. Dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dari yang seharusnya.

"Aku pikir, minder itu menutup kita untuk maju. Jadi buat apa minder? Lawan terus, usaha, banyak belajar. Aku coba untuk menantang diriku sendiri. Semakin diremehkan, semakin aku mau nunjukkan aku bisa. Setiap dikasih pekerjaan ABC aku mengerjakannya ABCD. Jam kerjaku seharusnya delapan jam, tapi aku bekerja sepuluh jam," bebernya. 

Kerja kerasnya mendapat apresiasi. Iwan yang mengaku penakut ini meraih penghargaanEmployee of the Month di bulan keempat dan kedelapan dirinya bekerja. 

Sendiri Itu Sulit

New York memang kota mewah, tapi Iwan tak lantas menjadi glamour. Ia tetap orang Batu yang sederhana. Ia mengatakan biaya hidup di sana sangat tinggi. "Aku sering beli lauk di luar terus masak nasi di rumah. Atau bikin rendang, kan bisa buat beberapa hari," ujarnya.

Soal makanan, Iwan juga sempat melewati kesulitan mengakrabi pasta dan pizza. Lidahnya tetap sambal terasi. Ia memutari kota mencari toko yang menjual bumbu rempah, membuat sambal untuk teman makan sehari-hari. 

Pada VIVAlife Iwan yang gemar menebar senyum ini menceritakan bagaimana ia melewati hari-harinya sendiri. Saat sedih ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Setiap hari ia menelepon keluarganya di Batu. Menceritakan hal apapun kepada ibunya.
Iwan juga mulai menekuni yoga. Awalnya ia memang tak tertarik dengan yoga, menurutnya yoga hanyalah kegiatan untuk perempuan. Sampai akhirnya ia menemukan khasiat yoga. Obat ampuh untuk menyembuhkan kesedihan, kesendirian, dan mengusir kesepiannya. 

Lelaki yang hobi bertualang ini juga menceritakan kejadian paling tragis saat ia tinggal di Westchester. Meski daerah ini terbilang paling aman di New York, tapi justru di sinilah ia babak belur. Pipinya biru terkena pukulan. Badannya berkeringat dingin, gemetar. Iwan dirampok sesaat setelah ia ke luar dari ATM.
"Saya nggak ngelawan, nangis-nangis iya," ujar pria yang mengaku tidak pernah berkelahi seumur hidupnya ini. Namun kejadian itu tidak lantas membuatnya menyerah dan pulang. Iwan tetap bertahan demi mencapai apa yang ia inginkan.

Ia masih terus membahagiakan keluarganya, lebih dan lebih. Setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali ia mentransfer sebagian gaji dan bonusnya untuk keluarga lewat sang ibu. Wanita yang selama ini menjadi 'menteri keuangan' keluarga. 

Mencintai New York

Lambat laun penyesuaian dirinya makin mulus. Ia bahkan betah tinggal di negeri yang tak pernah tidur ini. Meski rasa rindu untuk pulang kerap menyelinap. Iwan sudah bisa menikmati New York.
New York yang sempat mencengangkannya saat pertama kali menginjakkan kaki. "Noraknya tuh pas aku tahu, oh passport tuh kayak gini, bandara John F Kennedy tuh gini ya, gini toh rasanya naik pesawat," ujarnya mengenang.

Pulang kerja, ia berjalan melewati pertokoan. Sekadar membuang penat atau malah berbelanja. Iwan jadi lebih mengenal fesyen. Ia sadar penampilan menjadi kebutuhan, bukan hanya bagian gaya hidup. 

Dikatakannya, orang-orang di sekeliling turut memberi pengaruh. "Saya merasa jadi suka baca buku, liat orang-orang baca buku di taman, di bus, di kafe. Saya juga liat fesyen orang-orang, cara mereka berpakaian."

Iwan menemukan energinya. Energi yang mampu membuatnya menaiki karier lebih tinggi bahkan menjadi sangat hebat. Ia mendapat promosi menjadi Senior Data Processing Executive. Lalu Manager Data Processing Executive, Senior Manager Operations, dan akhirnya sebagai Director Internal Client Management. Anak buahnya tak hanya di kantor tapi tersebar di New York, Chicago, San Fransisco, dan India. Ini bukan posisi main-main.

Membingkai kisah dalam tulisan

Pada 2011 Iwan kembali ke Indonesia. Ia memutuskan pulang setelah menghabiskan 9 musim panas dan 10 musim gugur di New York. Keinginannya memiliki kamar sendiri di rumahnya juga sudah kesampaian.

Baginya New York sudah mengubah hidupnya sangat banyak. Saatnya ia kembali dan menata hidupnya yang baru. 

Belum lama menikmati kemerdekaannya berkumpul bersama keluarga di Batu, Malang, Iwan mendapat tawaran untuk bekerja di Singapura. Sebagai Director Marketing Science di perusahaan marketing research multinasional yang mengawasi enam negara di Asia Tenggara. Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari yang ia terima di New York. Tapi ia menolak.

Alasannya sederhana, ia ingin melakukan sesuatu untuk keluarganya. Membingkai perjalanan hidupnya, perjuangan orangtuanya, dan kenangan bersama kakak adiknya dalam sebuah buku. Iwan menjadi penulis.
"Keponakan-keponakan saya itu tahunya, om nya sudah pernah jadi direktur, kakeknya bukan lagi sopir angkot. Keluarga saya juga tidak pernah punya foto keluarga, jadi saya membuatkan potret keluarga lewat tulisan."
Selama enam bulan di Batu ia menyelesaikan 9 Summers 10 Autumns, novel pertama sebagai hadiah untuk bapak. "Saya nggak bisa nulis kalau nggak di Batu, tempat ibu saya ini bikin saya tenang," ujarnya. Enam bulan itu pula ia mengenang masa lalunya. 

Bagaimana dulu ia merengek minta sepatu baru karena sepatunya sudah jebol. Bagaimana sesaknya rumah berukuran 6 x 7 meter yang dulu ditinggali bapak, ibuk, dan lima anaknya. 

Bagaimana ia harus berbagi sepiring nasi goreng dengan dua telur ceplok sebagai sarapan istimewa keluarga. Bagaimana sang bapak harus menjual angkot, satu-satunya mesin penghasil uang keluarga demi ia bisa kuliah. Bagaimana bapak harus menjadi sopir truk untuk tetap mengepulkan dapur. Hingga perjalanan kariernya di New York selama 10 tahun.

Tak sedikit air mata yang keluar saat ia merangkai kata. "Terkadang kesibukan itu bikin kita lupa evaluasi diri. Dengan menulis, aku jadi mengerti benar masa laluku," ungkap lelaki berambut kelimis ini. 

9 Summers 10 Autumns menjadi nasional best seller. Bertengger juga dalam daftar 10 besar Katulistiwa Literary Award, ajang penghargaan karya sastra terbaik di nusantara. Menyabet penghargaan sebagai Buku Terbaik Jakarta Book Award 2011, dan dicetak dalan versi Inggris berjudul 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple. 

Novel ini juga sudah difilm-kan dengan judul sama, dan segera meluncur di bioskop 25 April mendatang. Ia juga sudah menelurkan novel kedua berjudul Ibuk. Novel yang kali ini ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.

Namun pencapaian-pencapaian ini tak lantas mengubah hidup dan kebiasaan keluarganya. "Ibu saya masih suka nyuruh saya ngepel. Saya suka bilang gini, 'Bu, aku nih penulis terkenal loh'," kelakarnya. 

Setelah dua novelnya terbit, Iwan yang kini mendirikan perusahaan data analis mulai sering berkelana keliling Indonesia. Perjalanan backpack-nya menggunakan bus, kereta api, angkot, pesawat, ojek, bajaj, becak, dan perahu. Ia mendapat undangan untuk menceritakan kisah hidupnya, membagikan semangatnya. 

Hati kecilnya menjalankan dengan senang hati. Ia tak pernah lelah. Tujuannya mencari dua tiga anak sopir angkot untuk bisa seperti dirinya. Ia ingin semua orang melebihi dirinya, meski kendala selalu ada di depan mata. 

"Kalau mau maju, berbuat lebih dari orang lain, bekerja lebih dari orang lain.  Jangan hanya sesuai job desc," ujarnya. (umi)

Baca Juga:  
{[['']]}

Remaja 13 Tahun Bikin Helm Pendingin Kepala

Bocah 13 Tahun Ciptakan Helm yang Bikin Kepala Adem
Opoae ~ Anak 13 Tahun Ciptakan Helm yang Bikin Kepala SejukLinus Nara Pradana, merasa kasihan setiap kali melihat ayahnya kepanasan setelah bepergian naik motor. Bocah yang akrab disapa Nara ini lantas punya ide untuk membuat helm yang adem. Siapa sangka, ide yang tercetus saat dia duduk di bangku sekolah dasar ini, sukses memenangkan berbagai lomba inovasi.

"Waktu itu terpikir untuk membuat peredam panas di helm. Jadi ketika dipakai, apalagi di siang hari bisa membuat kepala dingin," tutur Nara yang kini berusia 13 tahun.

Dibantu ayahnya, Gunawan Siswoyo, Nara pun mengaplikasikan ide cemerlangnya itu. Semula, pada helm diberi semacam lubang angin. Selanjutnya, Nara terpikir untuk memberi air yang dimasukkan ke cetakan. Cetakan ini, dipasang di bagian tertentu pada helm.

Ide Nara ini berhasil menimbulkan efek adem di kepala. Namun Nara mengaku kurang puas. Pasalnya, air membuat helm menjadi berat. "Helm juga mengeluarkan bunyi air waktu dipakai, kurang nyaman," kata siswa kelas 2 SMP Petra 5 Surabaya ini.

Tak kehabisan akal, suatu hari Nara melihat iklan popok bayi. Muncul ide untuk menggunakan bahan gel Sodium Polyacrlate pada helmnya. "Gel yang dipakai di pampers itu namanya Sodium Polyacrylate, punya daya serap air yang tinggi," kata Nara, berbicara di acara Get Inspired yang diadakan BBC Indonesia, di Undiknas University, Denpasar, Bali, Kamis (7/3/2013). 
Bocah 13 Tahun Ciptakan Helm yang Bikin Kepala Sejuk


Berkat ketekunannya, helm berpendingin yang dinamakannya Gel Coated Helmet sukses menyabet sejumlah penghargaan. Antara lain, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang menganugerahi Nara gelar National Young Inventors pada 2011, medali emas di gelaran International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di Thailand 2012, dan Rekor MURI sebagai inventor termuda Indonesia.

Ketagihan berinovasi, Nara punya proyek lain yang sedang dikembangkannya. Untuk produk helm ini saja, Nara juga sudah berancang-ancang menciptakan varian lainnya.

Helm berikutnya yang sedang dikembangkan Nara, bisa mengeluarkan suhu dingin saat terjadi benturan. Hebatnya, Nara helm ini dimaksudkan untuk pencegahan gegar otak.

"Jadi ketika terjadi benturan, bantalan khusus akan otomatis dingin sampai 11,5 derajat celcius. Ini untuk mengompres kepala agar jangan sampai suhu naik, berfungsi untuk mengompres kepala," kata Nara.

Namun Nara belum mau berbicara lebih detail mengenai helm barunya itu. Karena tidak seperti dua helm yang diciptakan sebelumnya, helm yang satu ini belum dipatenkan.

Namun yang jelas, ide helm adem itu kini dilirik produsen helm di Surabaya. Sang produsen memberi nama unik untuk helm ini, Naravation alias singkatan dari Nara Innovation.

Bagi yang penasaran ingin menjajal helm adem ini, nantikan sebentar lagi. April mendatang, Naravation siap diproduksi massal dan segera tersedia di pasar.

Hebat, selamat Nara!

Baca Juga:  
Sumber: http://www.surgaberita.com/2013/03/bocah-13-tahun-ciptakan-helm-yang-bikin.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+SurgaBerita+%28Surga+Segala+berita%29&utm_content=FeedBurner
{[['']]}

Modal Rp350 Ribu, Sekarang Penghasilan Jutaan Sehari


Opoae ~  Bosan menjadi buruh pengusaha roti, Sumadi (42) memutuskan keluar dari pekerjaannya itu demi mengembangkan usahanya secara mandiri. Modal membuka usaha diperoleh dari perhiasan yang dijual. Berkat kegigihan dan kerja keras, usaha itu berkembang. Kini dari usaha Sumadi itu beromzet minimal Rp6 juta per hari. (WAW)

Sumadi warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, memulai usaha membuat roti Kholombeng pada 1990. Saat itu bersama istrinya, Nanik (36), Sumadi memutuskan menjual sejumlah perhiasan yang dimiliki -hasil bekerja selama sepuluh tahun pada seorang pengusaha roti di Kota Yogyakarta- untuk dijadikan modal awal usaha membuat roti yang dinamainya roti Kholombeng.

Pada awal usahanya Sumadi mengaku mampu memproduksi sekitar 100 bungkus roti Kholombeng sehari. Roti itu kemudian dijual ke Pasar Beringharjo dan sejumlah pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.

“Jadi, selesai membuat roti siang hari ini, keesokan harinya saya antar sendiri roti-roti itu ke pasar-pasar tradisional dengan menggunakan sepeda onthel. Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain di Bantul sampai Kota Yogya,” ujar Sumadi, Senin 28 Januari 2013

Roti buatannya, kata Sumadi, laris dibeli pedagang pasar lantaran rasanya yang cukup lezat. Apalagi ia menjualnya dengan harga Rp350 untuk satu bungkus dengan isi 10 roti Kholombeng, bagi pedagang di pasar itu harga yang amat murah.

Dalam waktu singkat, peminat roti buatannya pun makin banyak. Pesanan kian bertambah. Sumadi merasa kewalahan jika harus mengerjakan semua usaha pembuatan roti ini sendirian. Sumadi kemudian merekrut karyawan.

“Dengan permintaan yang pesat saya pun harus menambah tenaga kerja. Saya lalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Hingga saat ini saya punya tujuh karyawan,”jelasnya

Sumadi yang merupakan ayah dari tiga putra yang semuanya masih duduk di bangku sekolah dasar ini, mengaku kini produksi rotinya per hari bisa mencapai 1500 bungkus roti. Penjualannya pun kian mudah.

“Untuk pemasaran didistribusikan kepada pedagang roti grosiran, ada juga pedagang roti yang mengambil roti dari rumah produksinya ini,” kata Sumadi.

Memproduksi roti Kholombeng 1500 bungkus sehari, Sumadi menjelaskan, bisa menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika dalam kondisi pasar sepi, minimal sehari menghabiskan 5 karung terigu untuk produksi.

Dalam hal ini, lanjut Sumadi, juga sudah ada kerjasama dengan perusahaan terigu demi menjamin mutu roti buatannya. “Selama saya menggeluti usaha pembuatan roti Kholombeng ini ada perusahaan terigu di Semarang yang memberikan pelatihan pembuatan roti sehingga komposisinya baik dan rasanya lebih nikmat,” katanya.

Dengan produksi 1500 bungkus roti kholombeng, dalam seharinya ini Sumadi mampu mengantungi penghasilan hingga Rp6 juta. Penghasilan tersebut masih kotor karena masih dipotong biaya untuk bahan baku, gaji karyawan yang dibayarkan setiap minggunya serta biaya transportasi mengantar pesanan roti.

Sayangnya, baik Sumadi maupun Nanik tak mau menyebutkan berapa keuntungan bersih usahanya ini per hari. “Pokoknya cukup lumayan,” kata sumadi.

Sumadi kini dapat menggaji karyawannya Rp30 ribu per hari untuk membuat roti. Jika ada banyak pesanan, karyawannya pun akan mendapat uang tambahan dari membuat roti dengan sistem borongan itu.

“Dengan bekerja sebagai pembuat roti cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Dani, salah seorang karyawan Sumadi.

Baca Juga:  

Sumber: http://iannnews.com/ways-to-success-365-163-modal-rp350-ribu-kini-beromset-jutaan-sehari
{[['']]}

Novel-Novel Bagus Yang Memberikan Banyak Inspirasi


Opoae ~ Semakin hari, semakin banyak penulis Indonesia yang menerbitkan novel dengan cerita luar biasa. Dengan berbagai tema yang diangkat, banyak novel dari penulis Indonesia yang menjadi best seller, bahkan beberapa di antaranya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Sebuah fakta yang sangat membanggakan.

http://www.opoae.com/2013/03/novel-novel-bagus-yang-memberikan.html

Novel-novel best seller ini juga telah diangkat dalam film. Sebuah bukti bahwa sebuah novel yang apik tidak sekedar menjual cerita sedih atau cinta, tetapi ada sisi lain yang bisa menjadi inspirasi para pembacanya.

Inilah beberapa novel best seller yang ditulis oleh penulis Indonesia.

1. Laskar Pelangi


Laskar Pelangi adalah novel pertama Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Laskar Pelangi berkisah mengenai kehidupan 10 anak dari keluarga miskin di Belitung. Dengan berbagai keterbatasan sarana sekolah dan jauhnya Belitung dari ibu kota Indonesia, anak-anak itu tetap bersemangat dengan mimpi-mimpi mereka. Mereka menyebut diri sebagai Laskar Pelangi.

Novel dengan gambaran latar belakang sederhana tidak sesederhana kelihatannya. Para pembaca menjadi merasa sangat dekat dengan tokoh-tokoh Laskar Pelangi, mereka seolah nyata dan menjadi bagian dari keseharian kita. Novel ini juga menggambarkan dengan sangat gamblang bagaimana anak-anak di berbagai pelosok Indonesia masih kesulitan menikmati pendidikan dan sekolah.

Tawa, tangisan, keharuan dituliskan dengan sangat apik oleh Andrea Hirata. Novel ini menjadi pembuka bagi tiga buku lanjutan Laskar Pelangi, yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Novel ini telah diterbitkan di 20 negara. Sebuah prestasi yang luar biasa. Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi juga telah diwujudkan dalam bentuk film.

2. Perahu Kertas


Kisah cinta selalu menjadi bacaan yang menyenangkan, diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Bagi sang penulis, Dewi Lestari atau Dee, kisah cinta manis saja tidak cukup dalam novelnya. Perahu Kertas bercerita tentang impian seorang gadis bernama Kugy yang ingin menjadi seorang penulis dongeng. Kecintaan Kugy pada dunia anak dan kelihaiannya menulis kisah-kisah dongeng agak bertentangan dengan kenyataan, dimana orang-orang dewasa tidak lagi tertarik dengan dongeng. 


Pertemuan Kugy dengan Keenan, seorang pemuda yang mahir melukis membuat mereka berdua melambungkan impian mereka. Kugy yang pintar membuat dongeng tetapi payah dalam menggambar dibantu oleh Keenan membuat ilustrasi dongeng-dongengnya. Keduanya seperti terikat benang merah, impian yang harus tertunda karena beberapa hal.

Jalinan kisah cinta rumit antara Kugy dan Keenan juga menjadi pemanis dalam novel ini. Kisah cinta dan impian yang terganjal orang tua dan lingkungan adalah masalah yang sering dihadapi oleh remaja yang beranjak dewasa, sehingga novel ini dapat diterima dengan baik oleh para pembaca. Bahasa yang dituangkan Dee tidak seberat novel-novel lain karyanya, ringan tetapi sarat makna. Perahu Kertas sudah berlabuh di bioskop dalam dua bagian.

3. 5 cm


Pecinta buku dan film sama-sama terpuaskan oleh karya Donny Dhirgantoro yang diterbitkan oleh Grasindo. Di awal terbit, novel ini hadir dengan cover yang sangat sederhana, seluruhnya adalah warna hitam dengan tulisan 5 cm di bagian atas. Berbeda dengan novel yang kuat pada bagian deskripsi sehingga pembaca dapat berimajinasi, 5 cm hadir dengan banyak dialog antar tokoh di dalamnya. Kelebihan ini membuat pembaca seolah-olah dapat melihat mereka secara langsung sedang berbincang.

5 cm sendiri berkisah tentang lima sahabat yang sangat kompak sejak mereka bertemu di SMA. Seperti persahabatan pada umumnya, penuh tawa, saling berbagi dan memiliki impian yang sangat tinggi. Setelah cukup lama berpisah, persahabatan yang indah ini akhirnya membuat mereka mengalami petualangan mendebarkan di gunung Mahameru dan beberapa lokasi cantik lainnya di Indonesia.

Aroma persahabatan sangat kental dari buku ini, termasuk kecintaan mereka pada Indonesia. Anda yang lebih sering mendengar lokasi wisata di luar negeri akan dimanjakan oleh berbagai lokasi wisata alam di Indonesia yang sangat menawan. Sebagai novel laris, 5 cm telah dibuat dalam bentuk film yang tayang di akhir tahun 2012. Antusias luar biasa membuktikan bahwa buku dan film 5 cm adalah karya yang penuh inspirasi.   
Jadi apapun itu, cobaan, kekalahan, kegagalan, tidak akan menjadi sesuatu yang buruk. Tergantung bagaimana kita bersikap, tergantung bagaimana kita menyikapinya. - 5 cm 

4. Surat Kecil Untuk Tuhan 


Novel yang telah dibuat dalam bentuk film ini mengisahkan seorang gadis SMP berusia 13 tahun yang harus berjuang melawan kanker Rhabdomyosarcoma. Surat Kecil Untuk Tuhan merupakan novel dari kisah nyata, ditulis oleh Agnes Davonar dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2008 oleh Inandra Publised.

Nama gadis itu adalah Gita Sesa Wanda Cantika atau biasa dipanggil Keke. Usianya masih 13 tahun tetapi menanggung sebuah penyakit mematikan yang sangat berat, sebuah kanker yang pelan-pelan menggerogoti wajahnya. Sebagai gadis muda yang memiliki banyak impian, bukan hal mudah bagi Keke untuk menghadapi  fakta bahwa umurnya tidak lama lagi. Gadis cantik ini tetap ceria menghadapi hari-harinya, dia tetap tabah dan berjuang untuk sembuh.

Perjuangan Keke membuahkan hasil, dia hidup lebih lama dibandingkan prediksi dokter. Tetapi kanker itu terus tumbuh dan sedikit demi sedikit membuat tubuh Keke semakin lemah. Menghadapi semua ini, banyak orang yang menyalahkan Tuhan, tetapi tidak dengan Keke. Dia justru bersyukur karena Tuhan telah memberinya usia yang lebih panjang serta melihat banyak orang yang mencintainya. Di saat kritis, Keke menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan.

5. Ayat-Ayat Cinta

http://www.opoae.com/2013/03/novel-novel-bagus-yang-memberikan.html

Masih ingat dengan demam Ayat-Ayat Cinta? Buku tentang kisah cinta yang sangat apik ini ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy pada tahun 2004. Diterbitkan oleh Basmala dan Republika. Bisa dikatakan, Ayat-Ayat Cinta adalah pelopor sastra Islami. Tidak banyak novel Islami yang mengisahkan indahnya jatuh cinta sebagai sebuah berkah luar biasa. Sang penulis sangat pandai merangkai kata-kata indah sehingga pembaca hanyut di dalamnya. Tidak mengherankan novel Ayat-Ayat Cinta dicetak hingga 160.000 eksemplar hanya dalam waktu 3 tahun saja.

Novel ini berkisah tentang Fahri bin Abdillah, pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al Ahzar, Mesir. Di sana, dia mengenal Maria Grigis, tetangga satu flat Fahri yang beragama Kristen Koptik. Walau begitu, Maria sangat mengagumi Al Quran, sekaligus mengagumi Fahri sebagai pemuda baik yang selalu taat beribadah. Rasa kagum itu menjadi cinta, tetapi hanya berupa kata-kata yang ditulis Maria dalam buku hariannya. 


Di sisi lain, Fahri berkenalan dengan Aisha. Wanita tersebut digambarkan memiliki mata yang sangat indah dan membuat Fahri jatuh hati padanya. Selain dua wanita di atas, ada Nurul dan Noura yang juga menaruh hatinya pada Fahri. Sebuah kisah cinta yang bisa dikatakan rumit, tetapi sangat indah dan membuat banyak wanita meneteskan air mata. Sukses novel Ayat-Ayat Cinta juga terjadi saat novel ini digarap dalam bentuk film. 
Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah.
Aku ingin menjadi yang halal bagimu. - Ayat-Ayat Cinta 

Baca Juga:  
Sumber: http://sorsow.blogspot.com/2013/01/5-novel-indonesia-terlaris-yang-memberi.html
{[['']]}
 
Copyright © 2011. Info Didunia - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger